singular

Posted by Yuspan on Jul 13, 2020

“Hidup ini singkat. Bagaimana membuat hidup ini berarti”

Semua itu berawal dari kalimat yang sederhana ini. Dalam perjalanannya interpretasi bisa berbeda dan penerapannya bisa berbeda:
Ada yang mengumpulkan belasan mobil Ferari, Rolls Royce dan memuatnya di garasi setebal 10 cm yang tembus pandang dengan ruang tamu seperti etalase.

Ada yang mengumpulkan dan merangkai begitu banyak gelar akademik dan profesional sehingga bisa dicantumkan dalam kartu nama.
Ada yang menjalani karir politik dan menggunakan kekuatan dan pengaruhnya untuk membuat bangsa ini menuju kehidupan yang lebih baik.
Ada yang sekedar ingin membahagiakan dan mensejahterakan keluarga. Anak-anak dapat bersekolah di sekolah pilihan dan hidup tidak berkekurangan.
Ada yang ingin karirnya sukses and terus menanjak, ibaratnya selalu naik kelas. Apabila perlu masuk kelas percepatan.
Masuk ke jajaran C-Club termuda, ter .. dan ter ...

Cerita-cerita di atas juga dapat kita pindahkan struktur dan dimensinya. Katakan saja dunia perkantoran, dunia modeling, dunia perproyekan, dunia sosialita, dunia pemerintahan, dan lain sebagainya. Apabila kita tempatkan satu demi satu cerita setiap insan manusia di bumi pertiwi ini yang berjuang untuk membuat hidupnya berarti dalam waktu yang singkat, maka akan didapat banyak cerita pendek yang bisa kita buat dalam bentuk anthology. Ada jutaan anthology. Satu garis singular. Garis lurus yang merangkum jutaan pertanyaan multi dimensional menjadi refleksi dua dimensi.

Ketika saya diminta Kak Yuspan untuk membuat tulisan orisinal untuk merayakan pembaruan website GenHR yang memiliki visi untuk menciptakan generasi HR terbaik melalui pengembangan skill dan kompetensi dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Hanya satu topik yang terlintas dalam benak saya. Tulisan ini.


Yang makin hidup berkekurangan makin sering memberi
Dua teman menjalankan bisnis bersama dari nol. Puluhan tahun kemudian bisnisnya menggurita dan masuk ke dalam jajaran Top 10 perusahaan terbesar di Indonesia. Hanya saja kesuksesan dalam binis tidak berbanding lurus dalam hubungan persahabatan dan kemakmuran.

Dalam perjalanannya, A sangat memanfaatkan B yang begitu mempercayainya. A menempatkan B sebagai direktur di beberapa perusahaan kertas (“paper companies”) yang dibuka A untuk menjalankan aliran dana ilegal baik di dalam dan luar negeri tanpa memberikan keterangan yang cukup dan  tanpa kompensasi sepeserpun kepada B. Hubungan persahabatan yang menyerupai saudara, membuat B tidak berhitung dengan A. Namun tidak demikian pola berpikir A. A bisa menggaji direksi ratusan juta rupiah per bulan, tapi tidak memperlakukan B sama. Yang terjadi A berpikir bahwa B seharusnya bersyukur bisa bekerja di perusahaan A. Lupa bahwa perusahaan tersebut dibangun bersama. Selain itu, tak satupun B menempatkan anak-anaknya di dalam struktur perusahaan.  

Dalam satu kesempatan A melalui penasehat hukumnya meminta B untuk menandatangani begitu banyak perjanjian yang B tidak paham isinya. B mempertanyakan mengapa A tidak meminta anakanaknya untuk menandatangani perjanjian-perjanjian itu. B sebetulnya paham mengapa A memintanya untuk menandatangani perjanjian tersebut. Hanya baru kali ini setelah 40 tahun, B pertama kalinya mempertanyakan A.  

“Kamu hanya perlu kerjakan dan tanda-tangan. Apabila kamu tidak mau mengerjakan, pintu akan selalu terbuka untuk menerima pengunduran dirimu” begitu cara A memperlakukan B. Sebaliknya A berpikir B tidak tahu berterima kasih.  

“Dalam perjalanan hidup, kita (B) yang berkekurangan malah makin sering memberi kepada keluarga mereka (A).”  B akhirnya mengundurkan diri setelah 40 tahun. “Hidup jangan dibuat sulit” tukasnya.  


Hanya sekedar angka-angka binari
C adalah CEO sebuah perusahaan multinasional. Pandemi membuat perencanaan C meleset dari target. Walaupun dibandingkan perusahaan lain, perusahaannya tetap memiliki pertumbuhan positive, margin masih positive dan arus kas operasional masih mengalir walau tersendat. C tetap mendapat tantangan dari Regional CEO untuk dapat memenuhi komitment/ target tahunan. C sendiri terbakar ingin membuktikan bahwa dirinya dapat menjawab tantangan tersebut, whatever it takes.  

“KPI harus dipenuhi, apapun itu caranya. Bila perlu, mulai pengurangan jumlah karyawan supaya marginnya membaik. Kalau bisnis membaik, bisa kita rekruit kembali. Tapi kondisikan, kirimkan mereka ke area yang jauh supaya mereka mengundurkan diri.” ujar C kepada tim managemen-nya. Bagi C, karyawan hanyalah sekedar angka-angka binari dalam laporan laba rugi yang setara dengan bahan baku, bahan penunjang dan utilitas termasuk depresiasi bangunan mesin dan peralatan.

Eksekusi berjalan sesuai rencana. Banyak karyawan mengundurkan diri dan terpaksa menerima uang pisah yang tidak seberapa. Ada dan banyak juga karyawan yang menempuh jalur hukum di Disnaker menuntut keadilan. Akan tetapi C pada akhirnya dapat memenuhi komitmentnya dan mendapatkan bonus dan promosi yang diharapkan di tahun tersebut.

“Great Leader” sebagaimana disampaikan Regional CEO kepada C atas determinasi, kepemimpinan dan pencapaian komitmen yang luar biasa.

Mengambil sedikit dari yang berkelebihan
D adalah Manager Penjualan dan Teknis yang bekerja di perusahaan kimia dan baru-baru ini memenangkan tender dengan sistem fixed billing. Untuk mempertahankan marginnya agar tetap tinggi, ketimbang menjual produk perusahaan maka diaturlah agar bahan-bahan baku dibeli dari luar dengan harga murah dan langsung dikirimkan dari gudang supplier ke gudang pelanggan. “Seperti makan di restaurant ternama, kokinya kita juga. Lebih baik beli bahan-bahannya di luar. Masak di sana. Lagipula tidak dikontrol sebagai persediaan juga”.

Waktu pun berlalu.  

Sukses dengan cara ini, D melihat peluang lain. Bagaimana jika dia mengatur pembelian dropshipment secara berlebih. Kelebihan dari bahan-bahan baku tersebut akan ia gunakan untuk kepentingan dirinya sendiri. “Toh tidak ada yang mengontrol. Berapapun yang akan dipakai, perusahaan menagihnya ke pelanggan dengan angka bilangan yang tetap setiap bulannya. Lagi pula bahan baku yang dibeli jauh lebih murah. Ini win-win, kita hanya mengambil sedikit dari yang berkelebihan”.

Waktu pun berlalu. Hanya beberapa orang di perusahaan yang tahu. Dari sendiri menjadi tim. Makin terbiasa dengan cara sebelumnya dan bosan terus menjual bahan baku dengan margin tipis. D melihat peluang yang lebih besar. Bagaimana jika D membuka perusahaan sendiri. Dengan bahan baku yang diambilnya dari perusahaannya, D mendekati dan membujuk pelanggan-pelanggan perusahaannya agar beralih ke perusahaan miliknya. Dengan zero cost (karena diambil secara ilegal dari perusahaan), berapapun diskon yang diberikan ke pelanggan, harga jual tetap akan lebih murah dari harga resmi perusahaan. D tetap mendapatkan margin 100%.

D berhasil membuat keluarganya lebih “sejahtera” sampai semua itu terbongkar.  


Harga yang terlalu mahal dibayar untuk mengakui kesalahan
Sebagai Senior Manager HRD di perusahaan ternama, prestasi demi prestasi diraih E baik dalam negeri maupun manca negara. Sampai suatu hari seorang karyawan perusahaan ex pensiunan yang direkrut kembali sebagai konsultan (dalam kontrak kerja kemitraan) mengajukan pengaduan terhadap kemungkinan kesalahan perhitungan pemotongan pajak penghasilannya. “Terlalu besar” katanya.

Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata sejak tahun 2016 Dirjen Pajak mengeluarkan aturan perhitungan pemotongan pajak penghasilan untuk bukan pegawai di mana hanya 50% dari penghasilan bruto karyawan yang ditetapkan sebagai dasar pengenaan pajak, bukan 100% yang selama ini dilakukan. Kesalahan pemotongan ini berimbas ke begitu banyak karyawan pensiunan yang diangkat sebagai mitra/ konsultan sejak tahun 2016  sampai saat ini. Banyak dari mereka juga sudah terhenti kontraknya.  

Walaupun salah, E tetap bersikukuh bahwa penetapan mereka sebagai konsultan hanya dilakukan sebatas kontrak mengingat pekerjaan yang tetap tidak dapat ditempati karyawan tidak tetap menurut UU No 13 tahun 2013. “Apabila kesalahan ini saya akui, maka harga yang dibayar untuk mengakui kesalahan ini terlalu mahal”.  


Ketika Pengabdian berhadapan dengan Komersialisasi
Ada seorang Profesor yang meninggalkan dunia usahanya pada waktu muda dan lebih mengikuti suara hatinya untuk mengajar di universitas. Profesor itu begitu terkenal karena kejujurannya,  keotentikannya, kejeniusannya dan ketegasannya dalam mendidik mahasiswanya agar berhasil di masyarakat. Side effectnya adalah mahasiwa menjadi lebih lama untuk lulus di dua mata kuliah akhir di mana sang profesor adalah dosen tunggal di fakultas tersebut.

Pihak universitas memiliki agenda yang berbeda. “Student flows should be much more important”.   Universitas menginginkan proses kelulusan yang lebih mudah karena keberhasilan mahasiswa di masyarakat tidak tergantung dengan dua mata kuliah akhir yang diajarkan sang profesor. Yang tidak diketahui pihak universitas selama ini adalah sang profesor tidak hanya mendidik teknis materi kepada mahasiswa-mahasiswanya. Di samping teknis, sang profesor memberikan banyak nilai kehidupan kepada mahasiswanya. Banyak mahasiswa yang berhasil selama rentang puluhan tahun yang berasal dari tangan dinginnya, jumlahnya ratusan mendekati ribuan.

Pihak universitas pun mulai membuka ruang kelas untuk dosen-dosen baru yang mengajar mata kuliah yang sama dengan sang profesor. Sebaliknya profesor diberikan kelas kecil di jam-jam yang tidak biasa. Jumlah mahasiswanya terus menyusut, tapi cara mengajar dan semangat sang profesor tetap sama walaupun usianya sudah di atas 70 tahun.

Di hari terakhir sang profesor mengajar, puluhan eks mahasiswa nya datang dari segala penjuru dan menunggunya di depan kelas hanya untuk mengantar. Ada ex mahasiwa yang membawa termosnya, tasnya, dokumen-dokumennya. Setiap tahun rumahnya selalu terbuka untuk menerima ex mahasiswanya datang dan berkunjung. Sampai saat ini.


SINGULARISASI
Sebagaimana di sampaikan di atas. Ada jutaan anthology. Tulisan ini hanya mengambil 5 (lima) dari jutaan anthology atas mereka yang berjuang untuk membuat hidupnya berarti dalam waktu yang singkat.  

Ada B yang percaya bahwa persahabatan dan persaudaraan dengan A pada akhirnya membuka mata B bahwa dunia tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.  

Ada C yang mendapatkan apa yang diinginkan dengan berpikir sesuai logika dan bertindak mengikuti kaca mata norma yang ada di masyarakat walau kadang norma tidak berjalan linear dengan etika.

Ada D yang mengambil jalan pintas dengan mengambil apa yang bukan menjadi haknya. Seperti layaknya minum air laut, semakin banyak diminum akan semakin haus. D menjerumuskan diri secara sadar melakukan kesalahan demi kesalahan dalam skala intensitas yang makin dalam dan meluas.  

Ada E yang lebih memilih hidup dengan menjalani konsekuensi kesalahan yang tidak akan pernah diakuinya dengan banyak pertimbangan.

Ada Professor F yang selalu berjalan sesuai koridornya dengan melakukan sesuatu yang dianggap benar walaupun seluruh dunia menentangnya.  

Satu garis singular yang merangkum jutaan pertanyaan multi dimensional menjadi refleksi dua dimensi adalah bagaimana cara mereka menjaga hati dalam perjalanannya untuk membuat hidup semakin berarti.  

Hati berperan sebagai lentera yang menerangi pikiran dan tindakan kita. Bahkan ada yang bilang bahwa mata itu jendela hati.

Hati itu selalu bersinar dengan intensitas yang sama. Tidak ada istilah sinarnya dapat redup.

Melakukan cara-cara yang bertentangan dengan suara hati sama saja dengan terus mengoleskan hati kita dengan campuran minyak dan oli. Makin sering dilakukan, akan semakin tebal lapisan minyak dan oli yang menyelimuti hati kita. Akan makin sulit dibersihkan.

Lambat laun, hati bisa tertutup.  
Tidak bisa lagi sinar terangnya menerangi pikiran dan tindakan kita.  
Tidak bisa lagi menerima cahaya dari luar.
Jika hati kita sepenuhnya tertutup karenanya, apakah kita masih bisa menyebut diri kita “manusia”?

Jika logika deduksinya memang demikian, bukankah yang terpenting dalam membuat hidup yang singkat menjadi lebih berarti, garis singular yang menghubungkan multi dimensi dan anthology, adalah dengan mempertahankan hati kita tetap bersih. Dapat memberi cahaya sekaligus menerima cahaya sepanjang nafas masih berhembus sampai akhir.

Saya menyebutnya “Kemenangan Hati”.
Garis singular itu adalah “Kemenangan hati”. 


Ditulis oleh : Yohanes  Jeffry - Country Finance Head Ecolab Indonesia

Note: Tulisan ini adalah pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili instansi/organisasi manapun.

Leadership | 286

# Self Leadership

Comment




Related Articles

singular

“Hidup ini singkat. Bagaimana membuat hidup ini berarti” Semua itu berawal dari kalim